Sinergi Akademisi dan Praktisi: Prodi Agroekoteknologi Tinjau Langsung Kualitas Kegiatan Magang di UPT PATPH
JAWA TIMUR – UPT Pengembangan Agribisnis Tanaman Hortikultura dan Pangan (UPT PATPH) kembali menerima kunjungan penting dari kalangan akademisi. Kali ini, Unit Pelaksana Teknis di bawah Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur tersebut menyambut kehadiran perwakilan Program Studi Agroekoteknologi dalam rangka Monitoring dan Evaluasi (Monev) kegiatan mahasiswa.
Kunjungan yang berlangsung hangat namun serius ini dihadiri langsung oleh figur senior akademisi, yakni Ibu Prof. Dr. Ir. Hj. Siti Fatimah, M.Si, didampingi oleh Dr. Diana Nurus Sholehah, S.Farm., Apt., M.Si. Kehadiran beliau berdua bukan sekadar formalitas administratif, melainkan langkah konkret dalam penjaminan mutu pendidikan. Tujuannya jelas: memastikan bahwa apa yang direncanakan di atas kertas kurikulum, benar-benar terimplementasi dengan baik saat mahasiswa terjun ke lahan.
Menyelaraskan Teori dengan Realita Lapangan
Dalam agenda tersebut, tim monitoring tidak hanya duduk di ruang diskusi. Mereka turun langsung meninjau aktivitas harian di UPT PATPH. Fokus utama tertuju pada bagaimana tim teknis dan peserta magang mengelola budidaya tanaman hortikultura dan pangan, serta pemanfaatan sarana dan prasarana yang ada.
Diskusi mendalam pun terjadi antara pihak kampus dan pengelola UPT. Dari pembicaraan tersebut, tercermin bahwa kegiatan di UPT PATPH telah berjalan on the track, sesuai dengan rencana kerja yang disepakati. Ada kepuasan tersendiri melihat bagaimana mahasiswa mampu aktif bertanya dan—yang paling penting—membandingkan teori dari ruang kuliah dengan praktik nyata di kebun. Ini adalah indikator bahwa transfer ilmu berjalan efektif.
Tantangan untuk Gen Z: Jangan Hanya "Manut"
Meski apresiasi diberikan atas kelancaran kegiatan, ada satu catatan menarik yang menjadi sorotan dalam Monev kali ini. Para mentor dan dosen tidak ingin mahasiswa sekadar menjadi "pengikut" yang hanya menjalankan instruksi teknis.
Ada dorongan kuat agar mahasiswa, sebagai representasi Generasi Z, lebih berani bersuara. Mereka diharapkan tidak canggung memberikan saran kritis atau ide segar selama pelaksanaan Praktik Kerja Lapang (PKL). Mengingat keakraban generasi ini dengan teknologi, pihak UPT dan kampus sepakat: mahasiswa harus lebih lincah memanfaatkan kemampuan digital mereka.
Keaktifan di media sosial, misalnya, tidak semestinya hanya untuk hiburan, tetapi bisa dikapitalisasi untuk mendukung publikasi dan meningkatkan kualitas kegiatan agribisnis yang sedang mereka tekuni.
Kunjungan ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk terus menjaga kualitas kerja sama. Bagi UPT PATPH, kehadiran mahasiswa dan dosen bukan hanya tamu, melainkan mitra strategis dalam mengembangkan inovasi pertanian masa depan.
